Minggu, 17 Januari 2016

The Perks of Being Psychology Student


Apa sih mahasiswa itu? Dan apa enaknya jadi mahasiswa? Terlebih kalau jadi mahasiswa psikologi. Tapi seperti setiap hal yang ada di dunia ini, pasti ada dua sisi. Ada baik dan buruk, ada hitam dan putih, ada kiri dan kanan, ada pros dan cons, ada enak dan tidak enaknya. Sebelumnya, kita pahami dulu apa itu mahasiswa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mahasiswa adalah pelajar perguruan tinggi, yang menempati struktur pendidikan tertinggi di Indonesia yaitu universitas. Lalu apa itu psikologi? Psikologi terdiri dari dua kata, psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu, jadi psikologi bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari kejiwaan. Makna kejiwaan bersifat abstrak, sulit untuk dibayangkan bagaimana kejiwaan dipelajari, jadi yang dipelajari hal – hal yang menyangkut kejiwaan seperti tingkah laku dan proses mental manusia. Bisa dibayangkan apa itu mahasiswa psikologi? Yap, mereka adalah orang – orang yang mempelajari kejiwaan. Sehingga bisa dipastikan jadi mahasiswa psikologi itu punya perks nya sendiri, yang tidak bisa dibandingkan atau bahkan disamakan dengan mahasiswa lain. Soooo, here we go :

1. Tempat Curhat

Ini adalah number one, numero uno dalam hal yang pasti dialami mahasiswa psikologi. Karena banyak orang awam beranggapan mahasiswa psikologi itu ahlinya kejiwaan. Jadi pasti teman, saudara, kakak, adik, bahkan tetangga pasti pernah curhat ke mahasiswa psikologi. Terkadang apabila tidak ada yang curhat pun pasti berujung dengan ada yang curhat. Kenapa? Mungkin karena banyak di perkuliahan psikologi yang mengajarkan kita untuk aware dengan lingkungan sekitar, jadi kalau ada teman atau orang yang kita kenal seperti sedang dalam masalah pasti ditanya “ Kamu kenapa? “. Berawal dari situlah percurhatan terjadi.

2. Mind Reader alias Bisa Baca Pikiran

Oke, ini terlihat lucu dan aneh. Tapi memang kenyataannya berkata demikian. Setiap bertemu orang yang tidak dikenal entah itu di kereta, di bis, atau lagi duduk – duduk dan ditanya kuliah dimana, terus dijawab kuliah di psikologi, respon yang selalu dan pasti didapat adalah... “ Wah berarti bisa baca pikiran orang ya mbak?” atau “ Wah bisa baca tulisan orang ya mbak?” Mungkin pertanyaan terakhir masih bisa kita jawab dan masih logis, karena ada graphology, ilmu yang menganalisis karakteristik orang melalui pola tulisan tangan. Tapi graphology pun sebenarnya tidak dipelajari di psikologi. Tapi ya sudahlah.. Nah, pertanyaan pertama yang bisa membuat speechless dan bingung menjawabnya. Mind reader? Apa kita Superman? Wait, Superman saja tidak bisa baca pikiran orang apalagi kita, jadi jangan sekali – kali bertanya apa mahasiswa psikologi itu bisa baca pikiran orang ya.

3. “Besok Mau Jadi Apa?”

Ini dia pertanyaan yang seperti ticking bomb atau bom waktu. Pertanyaan yang juga sering dilontarkan dan membuat para mahasiswa psikologi (kebanyakan sih ya) bingung atau ngenes mau menjawabnya karena tidak tahu harus menjawab apa. Memang kenyataannya di Indonesia, mahasiswa psikologi yang kelak akan jadi lulusan psikologi kurang memiliki kesempatan seperti lulusan yang lain karena minimnya posisi pekerjaan yang dibutuhkan dalam bidang psikologi. Selain itu, belajar psikologi itu lebih baik dilanjutkan dari S1 ke S2. Kenapa? Karena ibarat memasak, lulusan S1 itu seperti masakan yang kurang garam alias nanggung. Lulus S1 psikologi memang bisa bekerja di HRD atau perkantoran lain, tapi untuk prospek jangka panjang atau untuk promosi jabatan susah dilakukan. Mentok hanya menjadi staff saja, karena secara legal dan kode etik memang hanya diperbolehkan menjadi staff. Untuk menjadi psikolog, trainer, assesor dan lain – lain, harus mengantongi ijazah S2 terlebih dulu, mau magister profesi (mapro) atau sains.

4. Bisa Jadi Ibu, Ayah, Istri atau Suami yang Baik

Hal ini merupakan salah satu mengapa psikologi menjadi ilmu yang dicintai. Di psikologi, kita belajar mengenai bagaimana menjadi seorang ibu atau ayah yang baik bagi anak – anaknya dan bagaimana menjadi istri bagaimana menjadi istri atau suami yang baik bagi pasangannya. Ada mata kuliah Psikologi Perkembangan yang mempelajari perkembangan manusia dari sebelum lahir sampai meninggal, baik perkembangan secara fisik maupun secara mental. Kita bisa mempelajari bagaimana mendidik anak kita secara baik, mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan dan masih banyak hal lagi. Mahasiswa Psikologi juga mempelajari mata kuliah Psikologi Pernikahan yang mempelajari mengenai apa itu keluarga dan what should family do and what marriage means. Selain kedua mata kuliah tersebut, mata kuliah yang lain juga memberikan kontribusi pengetahuan bagi para calon ibu atau ayah dan calon istri atau suami untuk memberi yang terbaik. The first step is knowing. 

5.   A Better Person

Lebih baik. Iya, itu adalah hal yang secara personal penulis alami dan rasakan. Sebenarnya apa yang kita pelajari sebagai mahasiswa psikologi juga kita dapatkan dalam kehidupan kita sehari – hari, dalam ups and downs nya pengalaman hidup kita. Tapi kita cenderung mengabaikan hal – hal kecil yang sebenarnya krusial atau mampu membawa perubahan dalam hidup kita. Semisal, saat kita merasa marah, kecewa dan sakit hati terhadap orang lain, jarang kita memposisikan kita sebagai orang yang salah atau the bad guy. Kita selalu memposisikan diri sebagai korban yang disakiti atau the victim sehingga kita merasa berat untuk memaafkan atau untuk sekedar meringankan permasalahan yang kita alami. Coba sekarang apabila kita mengubah perspektif kita, cara pandang kita, point of view kita terhadap masalah yang dihadapi. Posisikan dirimu tidak hanya sebagai korban, tetapi juga sebagai yang bersalah. Karena semua hal yang terjadi di dunia ini adalah hukum sebab – akibat atau hukum stimulus – respon yang dikemukakan oleh Freud dan Pavlov. Sama seperti ungkapan jika ada asap pasti ada api. Everything would be easier to handle kan? Masih banyak hal baik lain yang bisa membuat kita belajar untuk menjadi orang baik, karena buat apa jadi psikolog jika kita tidak bisa memahami seseorang dan judgemental terhadap orang lain.
Beberapa hal yang penulis kemukakan adalah sekelumit dari sekian hal yang amazingly good, amazingly weird and amazingly funny yang dialami seorang mahasiswa psikologi. Dan penulis yakin pasti akan masih banyak hal yang dipelajari dan didapat kelak selama 2 tahun mendatang. This are my perks of being psychology student, what are your perks?